Gangguan Bipolar: Kenali Penyebab, Gejala, & Perawatan

Gangguan bipolar bisa dialami oleh siapa saja dengan berbagai sebab. Kenali penyebab bipolar, gejala, dan apa yang harus kamu lakukan ketika dokter mendiagnosa kamu atau salah satu anggota keluarga dengan gangguan bipolar.

Gangguan Bipolar (Bipolar Disorder) adalah gangguan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati, pikiran, perilaku, dan energi yang ekstrem. Dikenal juga dengan sebutan manik depresi karena suasana hati seseorang dapat berubah dengan cepat seperti dua (bi) kutub (polar) yang bertolak belakang. Gangguan bipolar memiliki dua titik atas yaitu mania (high) dan depresi (low). Perubahan suasana hati ini dapat berlangsung beberapa jam, hari, minggu, hingga bulanan.

Gangguan bipolar dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia, jenis kelamin, etnik, ras, maupun kelas sosial. Menurut Bipolar Care Indonesia, sebesar 2% masyarakat Indonesia mengidap gangguan bipolar.

Bipolar bukanlah suatu kelemahan atau aib seseorang, bukan pula karena penderitanya kurang beragama atau cari perhatian.

Fakta Mengenai Gangguan Bipolar

  • Sebelumnya dikenal dengan sebutan manic depression
  • Jika tidak dirawat, dapat menyebabkan kandasnya hubungan percintaan, keluarga, prospek karir, dan performa akademis
  • Penderita bipolar mengalami perubahan suasana hati dari mania atau hypomania dan depresi
  • Episode-episode bipolar dapat berlangsung beberapa minggu atau beberapa bulan, dengan beberapa periode stabil di antara keduanya
  • Gangguan bipolar dapat diatasi dengan pengobatan rutin, namun memerlukan waktu untuk menemukan kombinasi obat dan dosis yang tepat

Tanda-tanda gangguan bipolar umumnya mulai muncul antara usia 15 sampai 25 tahun, meskipun beberapa kasus juga menunjukkan tanda kemunculan di usia awal remaja. Namun, terdapat pula kasus yang menyatakan bahwa gangguan bipolar dapat dimuilai sejak dini atau bahkan di usia lanjut.

Wanita dan pria sama-sama beresiko memiliki gangguan bipolar meskipun dimulai dengan fase yang berbeda. Menurut jurnal akademis Psychiatric Clinics of North America tahun 2003, gangguan bipolar pada pria diawali dengan episode mania sementara pada wanita diawali dengan episode depresi. Wanita juga lebih sering mengalami perubahan suasana hati daripada pria.

Penyebab Gangguan Bipolar

Jurnal akademis Neuroscience mengabarkan bahwa gangguan bipolar adalah gangguan medis yang paling sering diturunkan. Penelitian yang sedang berlangsung saat ini berusaha mengungkap gen spesifik yang mempengaruhi seseorang terkait gangguan bipolar.

Belum bisa diungkapkan dengan pasti apa penyebab gangguan bipolar. Tetapi, peneliti menduga bahwa gangguan bipolar diakibatkan oleh kandungan senyawa kimia yang tidak seimbang di dalam otak.

Keturunan genetik: Gangguan bipolar seringnya berasal dari keturunan. Jika seseorang di dalam keluarga memiliki gangguan bipolar, terdapat 30% kemungkinan bahwa dalam setiap kehamilan, janin yang dikandung juga akan mengidap gangguan bipolar.

Senyawa kimia otak yang tidak seimbang: Neurotransmitter yang tidak seimbang nampaknya memegang peranan kunci dalam berbagai gangguan suasana hati, termasuk gangguan bipolar

Masalah hormon: Hormon yang tidak seimbang mungkin juga menjadi penyebab gangguan bipolar.

Faktor lingkungan: kekerasan, stress, perubahan besar, atau beberapa kejadian traumatis memeliki peranan untuk menyebabkan gangguan bipolar

Gangguan bipolar tidak memiliki satu penyebab pasti, tetapi lebih kepada beberapa faktor yang saling berinteraksi. Beberapa orang yang memiliki keluarga dengan gangguan bipolar mungkin tidak memiliki gejala yang tampak hingga faktor lingkungan menyebabkan perubahan suasana hati yang ekstrim.

Jenis-jenis Gangguan Bipolar

Pasien mungkin akan didiagnosa dengan salah satu dari ketiga tipe gangguan bipolar di bawah ini:

Gangguan Bipolar Tipe I

Syarat diagnosa gangguan bipolar tipe I:

  • Mengalami setidaknya satu kali episode mania
  • Mengalami setidaknya satu kali episode depresi mayor
  • Dokter harus mengecualikan gangguan yang tidak berhubungan dengan gangguan bipolar seperti, skizofrenia, gangguan delusi, dan gangguan psikosis lainnya

Gangguan Bipolar Tipe II

Syarat diagnosa gangguan bipolar tipe II:

  • Mengalami setidaknya satu atau lebih episode depresi
  • Mengalami setidaknya satu kali episode hipomania

Hipomania adalah kondisi yang lebih ringan dibanding mania. Fase hipomania ditandai dengan kebutuhan tidur yang menurun, menjadi lebih kompetitif, berenergi, dan bersemangat.

Meskipun demikian, penderitanya masih bisa beraktivitas seperti biasa dan umumnya hanya sebentar. Berbeda dengan episode mania yang menyulitkan penderitanya untuk beraktivitas dan biasanya berlangsung lebih lama.

Orang-orang terdekat penderita bipolar yang berada dalam fase hipomanik biasanya mampu melihat perbedaan fase-fase tersebut.

Menurut penelitian tahun 2003, Bipolar II lebih sering dialami oleh wanita daripada pria.

Gangguan Cyclothymia

Cyclothymia ditandai dengan beberapa periode peningkatan suasana hati seperti mania atau hipomania dan beberapa periode depresi yang berlangsung setidaknya selama 2 tahun.

Perbedaan cyclothymia dengan bipolar tipe I dan II adalah tingkat keparahan gejala yang muncul. Perubahan suasana hati yang muncul tidak cukup ekstrim untuk memenuhi diagnosa untuk mania, hipomania, atau depresi. Tapi bukan berarti bahwa gangguan ini tidak memerlukan perawatan.

Gejala Gangguan Bipolar

Gejala yang dialami mungkin saja berbeda dari setiap orang dan bergantung pada kondisi suasana hati. Beberapa orang mengalami perubahan mood yang jelas dengan gejala mania yang disusul dengan depresi. Masing-masing berlangsung hingga beberapa bulan, baik dengan ataupun tanpa episode stabil di antara keduanya. Beberapa orang mengalami high dan low selama beberapa bulan atau beberapa tahun.

Episode campuran adalah ketiga episode mania dan depresi berlangsung bersamaan. Penderita mungkin akan merasa negatif dan depresi, tapi mereka juga akan merasa bersemangat dan tidak ingin istirahat.

Gejala Mania atau Hipomania

Hipomania atau mania berarti suasana hati yang sedang tinggi, dan mania lebih tinggi daripada hipomania.

Gejala yang dialami antara lain:

  • Optimis dan percaya diri yang meningkat
  • Berani mengambil keputusan beresiko
  • Bertenaga dan lebih aktif
  • Yakin bahwa mereka bisa melakukan segalanya
  • Menjadi lebih terbuka, kadang agresif
  • Berbicara dengan cepat
  • Cepat beralih dari satu topik ke lainnya
  • Munculnya ide-ide aneh yang mungkin dilakukan oleh penderita

Fase ini bisa menyebabkan penderitanya tidak bijak dalam mengelola keuangan, membeli barang-barang yang tidak perlu, dan ikut serta dalam tindakan beresiko atau kriminalitas. Libido yang tinggi meningkatkan resiko aktivitas seks dengan bukan pasangan.

Gejala Depresi

Dalam kondisi depresi, penderita gangguan bipolar mungkin mengalami gejala di bawah ini:

  • Merasa sedih, putus asa, dan hilang harapan
  • Kesedihan yang ekstrim
  • Gangguan tidur dan insomnia
  • Turunnya nafsu makan
  • Pesimis dan kehilangan energi
  • Merasa bersalah dan tidak berharga
  • Menurun atau meningkatnya berat badan
  • Berkurangnya minat pada aktivitas yang biasanya disukai
  • Mudah tersinggung dengan suara, bau, pakaian ketat, dan hal lain yang biasanya bisa ditoleransi.
  • Sulit berkonsentrasi
  • Munculnya pikiran-pikiran bunuh diri

Pada kasus parah, penderita mungkin berpikir untuk mengakhiri hidup dan mereka mungkin akan melakukan percobaan bunuh diri.

Psikosis dapat terjadi di fase mania dan depresif. Penderita mungkin tidak bisa membedakan fantasi dan realita.

Siapa yang Beresiko?

Riwayat Turunan Keluarga

Jika salah satu anggota keluarga Anda baik orang tua maupun saudara yang memiliki gangguan bipolar, maka Anda beresiko lebih tinggi untuk memiliki gangguan suasana hati. Gejala awal mungkin saja muncul di awal remaja atau atau dewasa dengan usia rata-rata diagnosa pertama adalah 25 tahun.

Analisis penelitian menyatakan bahwa anak-anak dari orang tua dengan gangguan kejiwaan yang parah memiliki kemungkinan untuk mengidap gangguan kejiwaan ketiak dewasa.

Penelitian juga mengatakan bahwa semakin muda orang tua Anda terdiagnosa dengan gangguan bipolar, semakin besar pula kemungkinan Anda memiliki penyakit yang sama.

Tetapi, genetik bukanlah faktor tunggal penyebab gangguan bipolar. Penelitian dengan dua anak kembar menyatakan bahwa meskipun gangguan bipolar sangat bisa diturunkan, kedua anak kembar tersebut tidak selalu memiliki gangguan bipolar. Ini artinya, faktor lingkungan juga berpengaruh dalam meningkatkan atau mengurangi resiko gangguan bipolar.

Trauma dan Stress

Beberapa orang yang mengalami kejadian-kejadian traumatis memiliki resiko tinggi untuk mengidap gangguan bopolar. Faktor lingkungan yang dialami oleh seseorang ketika anak-anak seperti kekerasan fisik atau seksual, kematian orang tua, perceraian, kurangnya perhatian, atau bahkan kejadian traumatis lainnya yang dialami dapat meningkatkan resiko gangguan bipolar ketika dewasa.

Stress yang disebabkan karena kehilangan pekerjaan, kematian anggota keluarga, atau bahkan pindah ke tempat baru bisa menyebabkan munculnya episode mania dan depresi. Kurang tidur juga dapat meningkatkan resiko munculnya episode mania.

Penggunaan Obat-obatan Terlarang

Kelompok orang yang menyalahgunakan obat-obatan terlarang dan konsumsi alkohol berlebihan juga meningkatkan resiko gangguan bipolar. Kandungan obat-obatan tersebut tidak menyebabkan gangguan bipolar, tetapi dapat menyebabkan gangguan suasana hati yang dialami jadi lebih buruk atau mempercepat timbulnya gejala. Dalam beberapa kasus, obat-obatan juga dapat memicu episode mania atau depresi

Karena penyalahgunaan zat berbahaya dapat memicul psikosis, detoksifikasi harus dilakukan sebelum dokter mendiagnosa seseorang terkena gangguan bipolar.

Jenis Kelamin

Gangguan bipolar dapat dialami oleh pria maupun wanita, tetapi wanita beresiko tiga kali lipat mengalami perubahan mood yang cepat. Wanita juga lebih rentan terkena depresi dan episode campuran dibandingkan laki-laki.

Perawatan Bipolar

Pengobatan gangguan bipolar terbagi dalam tiga kelas pengobatan: penstabil suasana hati (mood stabilizers), anti psikotik, dan anti depresan.

Umumnya, perawatan gangguan bipolar terdiri dari setidaknya satu obat untuk mood stabilizer, dan/atau anti psikotik, ditambah dengan psikoterapi. Salah satu obat yang paling sering digunakan untuk mengatasi gangguan bipolar adalah Lithium Carbonate dan Valproic Acid Asam Valproat yang juga dikenal dengan Depakote atau Divalproex.

Lithium Carbonate bisa sangat efektif untuk mengurangi mania, meskipun dokter belum memahami sepenuhnya bagaimana obat tersebut bekerja. Lithium juga mampu mencegah terulangnya episode depresi, tetapi dampak penggunaan LIthium tampak lebih efektif terhadap mania daripada depresi.

Valproic Acid (Depakote) adalah penstabil suasana hati yang dapat membantu mengobati mania atau episode campuran yang diakibatkan oleh gangguan bipolar, bersama dengan obat anti epilepsi seperti Carbamazepine (Equetro, Tegretol).

Obat-obatan di atas dapat digunakan terpisah atau dikombinasikan dengan Lithium untuk mengatasi gejala. Sebagai tambahan, beberapa obat baru dapat digunakan ketika obat-obatan lain tidak cukup untuk mengatasi gangguan bipolar.

Lamotrigine (Lamictal) adalah obat-obatan anti epilepsi yang sudah terbukti membantu mencegah depresi dan sedikit mencegah mania atau hipomania.

Haloperidol (Haldol Decanoate) atau obat-obatan anti psikotik keluaranbaru seperti Aripiprazole (Abilify), Asenapine (Saphris), Olanzapine (Zyprexa, Zyprexza Relprevv, dan Zyprexa Zydis) atau Risperidone (Risperidal) sering diberikan kepada pasien sebagai alternatif Lithium atau Divalproex. Obat-obatan di atas juga diberikan untuk mengatasi gejala mania akut, terutama piskosis, sebelum lithium atau divalproex (Depakote) dapat memberikan efek maksimal yang mungkin saja memerlukan waktu satu hingga beberapa minggu.

Obat anti psikotik lain seperti Lurasidone (Latuda) juga digunakan untuk mengatasi depresi pada bipolar tipe I dikombinasikan dengan Olanzapine dan Fluoxetine (disebut juga Symbyax).

Obat anti psikotik quetiapine (Seroquel) juga digunakan untuk mengatasi depresi pada bipolar tipe I dan II

Penggunaan obat-obatan untuk perawatan gangguan bipolar harus seijin dokter dan mengikuti dosis yang disarankan oleh dokter. Jangan berhenti atau mulai menggunakan obat-obatan tersebut tanpa pengawasan dokter.

Apa yang harus Anda Lakukan?

Kalau Anda tidak yakin apakah Anda beresiko terkena gangguan bipolar, coba tanyakan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini pada diri Anda sendiri:

  • Apakah ada seseorang di keluarga Anda yang terdiagnosa dengan gangguan bipolar atau gangguan kejiwaan lainnya?
  • Apakah Anda memiliki trauma masa kecil?
  • Apakah Anda pernah mengalami kejadian yang membuat Anda stress berat?
  • Apakah Anda kurang tidur atau merasa tidak perlu tidur?
  • Apakah Anda mengalami perubahaan suasa hati yang ekstrim setelah mengonsumsi obat-obatan tertentu atau alkohol?
  • Apakah perubahan suasana hati Anda berpengaruh pada pekerjaan, aktivitas harian, atau hubungan Anda dengan pasangan atau kekasih?

Meskipun Anda menjawab “tidak” pada keenam pertanyaan di atas, Anda masih bisa berkonsultasi dengan dokter kejiwaan atau psikolog mengenai kekhawatiran Anda dan mereka akan mengevaluasi apa yang Anda rasakan.

Kalau Anda memiliki gangguan dan khawatir dengan resiko menurunkan gangguan tersebut pada anak Anda, konsultasikan pada psikiater dan profesional mengenai resiko dan metode-metode yang dapat Anda aplikasikan untuk memastikan anak Anda memiliki kesehatan mental yang baik.

Orang dengan gangguan bipolar bisa hidup normal karena gangguan bipolar dapat diminimalisir jika pasien menerima pengobatan, perawatan, terapi, dan dukungan orang-orang sekitar yang memahami kondisi mereka.

Bergabunglah dengan komunitas-komunitas bipolar seperti Bipolar Care Indonesia untuk berbagi keluh kesah dan menerima dukungan dari orang-orang yang mengerti situasi Anda, baik sebagai orang dengan bipolar, atau sebagai caregiver.

Get in Touch

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Related Articles

Pengobatan Bipolar Disorder: Obat, Terapi, & Keluarga

Pengobatan bipolar disorder bertujuan untuk menekan frekuensi episode manik dan depresi agar penderita bisa menjalani hidup layaknya orang normal. Peranan obat-obatan, terapi oleh psikiater...

Ciri-ciri Gangguan Mental: 6 Tanda yang Sering Terabaikan

Ciri-ciri gangguan mental bervariasi sesuai dengan indikasi penyakit mental yang mungkin dialami. Namun, ada tanda-tanda umum gangguan mental yang sering diabaikan oleh kebanyakan orang....

Penyebab Gangguan Mental: 7 Kebiasaan Pemicunya

Penyebab gangguan mental bisa beragam. Namun, ada 7 kebiasaan yang jika dibiarkan bisa menjadi pemicu munculnya gangguan mental. Kenali kebiasan buruk tersebut agar resiko...

Get in Touch

0FansLike
2,507FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Posts

Pengobatan Bipolar Disorder: Obat, Terapi, & Keluarga

Pengobatan bipolar disorder bertujuan untuk menekan frekuensi episode manik dan depresi agar penderita bisa menjalani hidup layaknya orang normal. Peranan obat-obatan, terapi oleh psikiater...

Ciri-ciri Gangguan Mental: 6 Tanda yang Sering Terabaikan

Ciri-ciri gangguan mental bervariasi sesuai dengan indikasi penyakit mental yang mungkin dialami. Namun, ada tanda-tanda umum gangguan mental yang sering diabaikan oleh kebanyakan orang....

Penyebab Gangguan Mental: 7 Kebiasaan Pemicunya

Penyebab gangguan mental bisa beragam. Namun, ada 7 kebiasaan yang jika dibiarkan bisa menjadi pemicu munculnya gangguan mental. Kenali kebiasan buruk tersebut agar resiko...

8 Gangguan Mental Paling Umum

Gangguan mental dapat dialami oleh siapa saja dengan berbagai alasan. Penyuluhan dan edukasi tentang gangguan mental di Indonesia sudah mulai membaik dalam 10 tahun...

Gangguan Bipolar: Kenali Penyebab, Gejala, & Perawatan

Gangguan bipolar bisa dialami oleh siapa saja dengan berbagai sebab. Kenali penyebab bipolar, gejala, dan apa yang harus kamu lakukan ketika dokter mendiagnosa kamu...