Pengobatan Bipolar Disorder: Obat, Terapi, & Keluarga

Pengobatan bipolar disorder bertujuan untuk menekan frekuensi episode manik dan depresi agar penderita bisa menjalani hidup layaknya orang normal. Peranan obat-obatan, terapi oleh psikiater dan psikolog, serta dukungan keluarga memegang peranan penting bagi proses pengobatan gangguan bipolar.

Pengobatan-Bipolar-Disorder-Perlu-Peranan-Keluarga
Selain obat-obatan dan terapi, dukungan keluarga dan caregiver berperan penting dalam proses pengobatan bipolar disorder

Menderita gangguan bipolar (bipolar disorder) memang membuat sebagian orang menjadi khawatir. Terutama jika dikaitkan dengan kemungkinan sembuh dan proses pengobatan yang harus dijalani. Proses tersebut bisa dibilang sangat panjang dan membutuhkan konsistensi serta kedisiplinan diri yang kuat.

Apa saja pengobatan yang dilakukan untuk mengatasi gangguan bipolar? Seberapa efektifkah rangkaian pengobatan tersebut?

Diagnosis Bipolar Disorder

Terlebih dahulu, perlu diketahui bahwa program penanganan dan pengobatan untuk orang dengan gangguan bipolar harus diberikan oleh dokter spesialis kesehatan jiwa atau psikiater dan psikolog. 

Psikiater bertanggung jawab atas pengobatan secara medis untuk mengurangi gejala yang muncul. Sementara psikolog bertanggung jawab atas penanganan secara psikologis melalui psikoterapi dan edukasi.

Pengobatan tersebut juga didasarkan pada diagnosis yang ditegakkan oleh psikiater atau psikolog setelah melalui serangkaian proses pemeriksaan yang mendalam. 

Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, para ahli kesehatan jiwa ini akan menentukan penanganan yang sesuai dengan kondisi pasien. 

Jadi, pengobatan bipolar disorder mungkin akan berbeda antara satu pasien dengan yang lainnya. Tentu saja, oleh karenanya efek yang dihasilkan dari pengobatan tersebut juga akan berbeda-beda, tergantung pada kondisi pasien dan konsistensinya.

Untuk mengetahui pengobatan untuk orang dengan gangguan bipolar, terlebih dahulu kita membahas apa itu gangguan bipolar dan penyebabnya.

Dalam menjalani kehidupan, manusia memiliki emosi atau perasaan yang turut berperan di dalam dirinya. 

Emosi tersebut biasanya tergantung pada suasana hati atau mood. Pada orang yang normal, suasana hati tersebut cenderung stabil, dan dikendalikan oleh kimiawi otak yang seimbang.

Sementara pada orang dengan gangguan bipolar, suasana hatinya bisa berubah secara ekstrem. Misalnya, saat ini ia merasa sangat senang, lalu tiba-tiba berubah menjadi sangat sedih tanpa sebab yang jelas.1

Gangguan mood yang ekstrem ini terjadi bergantian dan berupa episode-episode yang berlangsung selama beberapa hari hingga hitungan bulan. Di luar episode gangguan mood, penderitanya berada dalam keadaan normal.

Jenis-jenis Bipolar Disorder

Gangguan bipolar memiliki dua tipe, yaitu:

  • Gangguan bipolar tipe I. Pada gangguan ini, episode gangguan mood yang lebih dominan berulang adalah manik.
  • Gangguan bipolar tipe II. Pada gangguan ini, episode gangguan mood yang lebih dominan berulang adalah depresi.

Pada kondisi yang berat, gangguan bipolar dapat menjadi kondisi yang serius dan membahayakan. Penderita gangguan bipolar tipe I rentan untuk membahayakan orang lain karena energinya yang berlebihan, misalnya mengamuk dan memukul. 

Sementara penderita gangguan bipolar tipe II dapat membahayakan dirinya sendiri, misalnya melakukan percobaan bunuh diri.2

Penyebab Bipolar Disorder

Penyebab munculnya gangguan bipolar hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Namun terdapat dugaan bahwa kondisi ini disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan pada neurotransmitter, yaitu senyawa alami yang berfungsi mengendalikan fungsi otak.

Mengikuti faktor biologis tersebut, terdapat beberapa faktor lainnya yang berperan atas terjadinya ketidakseimbangan neurotransmitter tersebut. 

Faktor tersebut diantaranya genetik, fisik, lingkungan dan sosial. Gejala-gejala gangguan bipolar dapat terpicu jika seseorang mengalami peristiwa traumatis, seperti terdapat kerabat dekat yang meninggal, putus dalam berhubungan, mengalami kekerasan emosi, fisik atau seksual.

Selain faktor-faktor tersebut, ada faktor lain juga yang diduga memicu munculnya gejala gangguan bipolar, yaitu penyakit fisik, gangguan tidur, memiliki masalah dalam kesehariannya (rumah tangga, keuangan, pekerjaan, sekolah, dan lain-lain), serta kecanduan alkohol dan penyalahgunaan NAPZA.3

Gejala Bipolar Disorder

Gangguan bipolar secara umum ditandai dengan adanya episode gangguan mood yang ekstrem, yaitu manik dan depresi. Di antara episode gangguan mood, seperti yang telah disebutkan di atas, penderita terlihat seperti orang normal. Itu berarti ia sedang berada di episode atau fase normal.

Gejala manik berbeda dengan kesenangan atau kegirangan yang normal. Orang dalam kondisi manik memiliki energi yang berlebihan dan cenderung berperilaku destruktif, serta mengganggu orang lain. Disebut sebagai kondisi manik bila seseorang menunjukkan beberapa gejala berikut selama setidaknya empat hari, yaitu:

  • Sulit tidur.
  • Terlihat terlalu percaya diri.
  • Berbicara lebih cepat dari biasanya dan topik pembicaraannya mudah berganti.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Terlihat gelisah dan lebih mudah marah pada orang lain.
  • Berpenampilan mencolok dan cenderung menghamburkan uang.
  • Membuat keputusan-keputusan mengejutkan.
  • Bisa disertai dengan keyakinan yang salah (waham atau delusi).

Sementara itu, di saat seseorang mengalami episode depresi, ia akan terlihat mengalami kesedihan yang teramat sangat dan tidak bisa dijelaskan penyebabnya. 

Sama halnya dengan episode manik di atas, episode depresi pada orang dengan gangguan bipolar berbeda dengan kesedihan biasa. Pada episode ini, kondisi sedih yang dirasakannya menyebabkan ia tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Hal ini terjadi selama lebih dari dua minggu.

Gejala episode depresi diantaranya adalah:

  • Merasa sedih, hampa atau tidak berguna.
  • Enggan untuk melakukan aktivitas apapun.
  • Merasa tidak punya tenaga untuk beraktivitas.
  • Sulit tidur atau terlalu banyak tidur.
  • Dihantui oleh perasaan bersalah.
  • Tidak bisa berkonsentrasi dalam pekerjaan atau sekolah.
  • Memiliki pikiran atau niat untuk bunuh diri, atau bahkan pernah melakukaan percobaan bunuh diri.4

Penanganan dan Pengobatan Bipolar Disorder

Penanganan yang dilakukan oleh dokter terhadap orang dengan gangguan bipolar bertujuan untuk meredakan gejala yang muncul. Hal ini akan membantu pasien dapat mempertahankan episode normalnya lebih panjang sehingga ia tidak mengalami gejala manik atau depresi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Namun untuk mencapai tujuan tersebut, penanganannya akan membutuhkan waktu yang lama. Maka dari itu diperlukan kepatuhan dari pasien dan pengawasan dari keluarga serta dokter.

Penanganan gangguan bipolar dapat dilakukan dengan pemberian obat dan psikoterapi. Untuk menentukan metode yang tepat, pasien disarankan untuk berkonsultasi secara langsung dengan dokter dan psikolog.

#1 Pemberian obat

Pemberian obat ini dilakukan oleh dokter spesialis kesehatan jiwa atau psikiater. Obat-obat tersebut merupakan kombinasi beberapa jenis obat yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Penggunaan obat-obatan ini harus di bawah anjuran dan pengawasan dokter. Pasien tidak boleh mengubah dosisnya tanpa persetujuan dokter untuk menghindari terjadinya komplikasi yang dapat membahayakan pasien.5

Dokter biasanya akan memberikan pengobatan untuk mengendalikan gejala secepat mungkin. Setelah gejala terkendali, pasien akan menerima perawatan pemeliharaan untuk mengurangi risiko kambuh.

Berikut ini beberapa jenis obat yang digunakan untuk mengobati gangguan bipolar.

Peringatan: Obat-obatan ini harus digunakan atas persetujuan dokter, tidak boleh dikonsumsi bebas tanpa melalui pemeriksaan oleh dokter!

#1 Lithium

Lithium adalah obat untuk menstabilkan suasana hati. Obat ini telah digunakan sejak tahun 1970-an. Lithium dapat membantu mengendalikan gejala manik akut dan efektif untuk mencegah terulangnya periode manik dan depresi.

Efek samping yang umum terjadi adalah penambahan berat badan dan masalah pencernaan. Obat ini juga dapat mempengaruhi tiroid dan ginjal pasien. Untuk itu, perlu dilakukan tes darah rutin untuk memantau kesehatan kedua organ tersebut.

Lithium adalah obat kategori D yang harus dihindari pada kehamilan jika memungkinkan.

#2 Antikonvulsan

Antikonvulsan adalah obat untuk menstabilkan suasana hati yang telah digunakan sejak pertengahan 1990-an. Efek samping umum antikonvulsan adalah penambahan berat badan, mengantuk, dan ketidakmampuan untuk duduk diam. Obat ini juga dikaitkan dengan peningkatan risiko pikiran dan perilaku bunuh diri.

#3 Antipsikotik

Obat antipsikotik adalah pilihan pengobatan lain. Biasanya diresepkan sebagai kombinasi obat pada pasien dengan episode manik berat. Efek samping yang umum terjadi adalah kenaikan berat badan, rasa kantuk, mulut kering, penurunan libido, dan penglihatan kabur.

Selain itu antipsikotik juga dapat memengaruhi daya ingat dan perhatian. Serta diketahui dapat menyebabkan gerakan wajah atau tubuh yang tidak disengaja.

#4 Antidepresan

Antidepresan dapat dikombinasikan dalam pengobatan untuk membantu mengelola depresi pada pasien, namun terkadang dapat memicu gejala episode manik atau campuran manik-depresi.

Untuk mengurangi risiko tersebut, jenis obat ini sering diresepkan bersama dengan penstabil suasana hati atau antipsikotik.

Obat yang termasuk antidepresan adalah serotonin-reuptake inhibitor (SSRI), serotonin-sorepinefrin reuptake inhibitor (SNRI), monoamine oksidase inhibitor (MAOI) dan trisiklik. Secara umum, MAOI jarang diresepkan kecuali pada pasien yang memiliki respons buruk terhadap SNRI atau SSRI.

Efek samping yang umum terjadi adalah berkurangnya hasrat seksual, gangguan tidur, peningkatan nafsu makan, mulut kering, masalah pencernaan, dan masalah menstruasi.

Saat menggunakan MAOI, penting untuk menghindari obat lain dan beberapa jenis makanan seperti alkohol dan keju. Hal ini disebabkan oleh efek samping lain yaitu terjadinya sindrom serotonin yang merupakan kondisi langka namun berbahaya.

#5 Benzodiazepin

Obat ini memiliki sifat menghilangkan kecemasan. Efek sampingnya dapat berupa rasa kantuk, berkurangnya koordinasi otot, dan masalah dengan keseimbangan serta daya ingat. Obat-obatan ini harus digunakan dengan hati-hati karena terdapat risiko ketergantungan.

Beberapa obat di atas, seperti lithium dan antikonvulsan, dapat meningkatkan risiko bayi pada pasien yang hamil akan mengalami cacat lahir. Obat-obatan tertentu juga dapat menurunkan efektivitas obat-obatan KB. Jika pasien menggunakan alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan sebaiknya membicarakan hal ini dengan dokter.

Pasien yang sedang menyusui juga harus memberitahukan pada dokter tentang pengobatan ini. Beberapa obat mungkin tidak aman untuk anak dan memiliki efek samping tertentu.6

Pemberian obat harus berdasarkan penilaian dokter terhadap kondisi pasien.

Penilaian tersebut dapat berupa ada atau tidaknya gangguan mental lainnya, kondisi umum pasien terkait lingkungan dan gaya hidupnya, juga riwayat pengobatan sebelumnya. Dokter juga akan mempertimbangankan keselamatan dan efek samping yang akan diberikan berkaitan dengan kondisi pasien saat itu.

Alomedika.com menyebutkan bahwa penyebab kegagalan pengobatan yang paling sering adalah ketidakpatuhan pengobatan dan durasi pengobatan yang tidak memenuhi syarat.7

Evaluasi pengobatan pada orang dengan gangguan bipolar disesuaikan dengan episode yang dialami pasien tersebut. Biasanya dilakukan setiap 2-5 hari hingga pasien menunjukkan perbaikan gejala.

Evaluasi selanjutnya dilakukan pada 4-8 minggu setelah pengobatan untuk memastikan keadaan remisi.

Setidaknya, pasien dewasa menerima pengobatan selama 6 bulan sampai adanya perbaikan. Setelah pasien dinyatakan remisi penuh, pengobatan dilanjutkan hingga 4-6 bulan kemudian. Penghentian pengobatan dilakukan secara perlahan selama 2-4 minggu.

Namun bila pasien mengalami episode berulang, terutama depresi, mungkin dibutuhkan pengobatan yang lebih lama. Pemantauan rutin ini dilakukan pada pasien untuk melihat efek samping dan perbaikan kondisinya.8

#2 Psikoterapi

Selain terapi obat, untuk menangani gangguan bipolar juga diberikan psikoterapi baik oleh psikiater maupun psikolog. Meskipun tidak dapat menyembuhkan gejala gangguan bipolar, psikoterapi dapat membantu menurunkan tingkat kekambuhan, menurunkan gejala yang mengganggu dan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.

Beberapa jenis psikoterapi yang biasanya dilakukan adalah sebagai berikut.

#1 Terapi Behavioral Activation

Terapi ini dilakukan dengan pembuatan serangkaian jadwal kegiatan yang mampu mengarahkan perbaikan mood pasien. Terapi ini biasanya dilakukan pada pasien dengan depresi akut dan dapat efektif pada beberapa kasus depresi berat.

#2 Cognitive Behavioral Therapy (CBT)

Terapi ini merupakan terapi yang paling sering dilakukan pada orang dengan gangguan depresi. Pasien depresi biasanya memiliki pola pikir destruktif, yaitu pandangan negatif terhadap dirinya sendiri, dunia dan masa depannya. Terapi ini dilakukan untuk membentuk pola pikir yang baru untuk menghindari pikiran negatif terjadi otomatis. Selain itu terapi ini juga dapat membantu mengatasi perilaku yang merugikan orang lain di sekitarnya. CBT ini dapat dilakukan pada pasien dewasa, dan efektif pula pada kasus anak dan remaja.

#3 Terapi Interpersonal (IPT)

Terapi ini umumnya dilakukan pada pasien dewasa. Dalam terapi ini dilakukan pendekatan yang berbasis hubungan interpersonal dan berfokus pada masalah dalam hubungan tersebut.

#4 Mindfulness Based Cognitive Therapy (MBCT)

Terapi ini biasanya dilakukan pada penderita depresi yang sudah mengalami perbaikan untuk mencegah terjadinya kekambuhan. Komponen utama terapi ini adalah latihan kesadaran untuk menghindari munculnya pemikiran yang sebelumnya tidak disadari dan tidak terkendali.

#5 Problem Solving Therapy (PST)

Terapi ini berfokus pada perbaikan sikap dan perilaku pasien. Dalam terapi ini proses berpikir dilibatkan secara aktif agar pasien dapat memahami masalah yang ada dan bagaimana reaksinya terhadap masalah tersebut. Upaya perbaikan yang dilakukan melalui terapi ini ada dua aspek cara memecahkan masalah, yaitu bagaimana cara berorientasi pada masalah (terkait sikap dan reaksi emosional pasien), dan bagaimana gaya memecahkan masalah (terkait dengan aktivitas pasien atas suatu masalah).

Tujuan terapi ini adalah mengubah perilaku dan reaksi pasien terhadap masalah yang dihadapi sehingga dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kualitas hidupnya.9

#3 Perubahan Gaya Hidup

Selain terapi obat dan psikoterapi, orang dengan gangguan bipolar dapat memperbaiki beberapa hal terkait gaya hidupnya, seperti diet dan olahraga.

Umumnya, orang dengan gangguan bipolar tidak memerlukan diet khusus, kecuali yang mendapatkan pengobatan dengan MAOI. Pasien tersebut sebaiknya menghindari makanan yang difermentasi seperti susu, keju, acar dan daging asap, karena dapat menyebabkan krisis hipertensi.

Selain itu, pasien yang mendapatkan pengobatan lithium sebaiknya mengubah pola konsumsi garam karena dapat memengaruhi kadar obat dalam darah.10

Sementara mengenai olahraga, memang tidak menjadi prioritas bagi pasien yang mengalami depresi.

Namun, beberapa penelitian membuktikan bahwa melakukan olahraga secara teratur dapat mengurangi gejala depresi dan bipolar. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah endorfin dalam darah setelah berolahraga.

Endorfin diyakini memiliki kaitan yang erat terhadap perubahan suasana hati menjadi lebih baik dan nyaman. Selain itu aktivitas fisik dapat mengalihkan perhatian dari hal yang tidak menyenangkan dan pikiran negatif yang muncul.11

#4. Upaya Pengobatan Bipolar Disorder Lainnya

Upaya lainnya yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko gejala gangguan bipolar adalah:

  • Berhenti mengonsumsi alkohol atau NAPZA.
  • Menjalin hubungan yang sehat dan positif.
  • Mengatur rutinitas yang sehat, seperti tidur yang cukup dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
  • Memenuhi kebutuhan cairan tubuh.

Bila gangguan bipolar yang dialami menyebabkan penderitanya cenderung membahayakan diri sendiri atau orang lain, biasanya dokter menilai pasien tersebut perlu dirawat di rumah sakit hingga kondisinya membaik dan memungkinkan untuk rawat jalan.12

Peranan Keluarga dalam Pengobatan Bipolar Disorder

Di samping seluruh proses tersebut, dibutuhkan peran keluarga atau orang terdekat sebagai caregiver untuk mendukung kesembuhan orang dengan gangguan bipolar. Caregiver dapat mengenal dan mengetahui cara menangani kondisi pasien sehingga dapat membantu mencegah sekaligus mengendalikan munculnya gejala.13

Caregiver dapat memberikan perawatan dan kasih sayang yang cukup pada orang dengan gangguan bipolar. Mereka akan merasakan perhatian dan dukungan tersebut sehingga dapat menambah semangat untuk segera mengurangi dampak dari gangguan ini.

Catatan Kaki

  1. Redaksi Halodoc, “Penyakit Gangguan Bipolar – Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati | Halodoc.com,” halodoc, last modified September 5, 2019, accessed November 3, 2020, https://www.halodoc.com/kesehatan/gangguan-bipolar.
  2. Redaksi Klikdokter, “Gangguan Bipolar,” accessed November 3, 2020, https://www.klikdokter.com/penyakit/gangguan-bipolar.
  3. Tjin Willy, “Gangguan Bipolar,” Alodokter, last modified September 3, 2014, accessed November 3, 2020, https://www.alodokter.com/gangguan-bipolar.
  4. Klikdokter, “Gangguan Bipolar.”
  5. Willy, “Gangguan Bipolar.”
  6. Editorial Team Honestdocs, “Obat-Obatan untuk Mengobati Gangguan Bipolar,” HonestDocs, last modified August 31, 2019, accessed December 4, 2020, https://www.honestdocs.id/obat-obatan-untuk-mengobati-gangguan-bipolar.
  7. Immanuel N Tarigan, “Penatalaksanaan Gangguan Mood,” Alomedika, last modified November 29, 2019, accessed December 4, 2020, https://www.alomedika.com/penyakit/psikiatri/gangguan-mood/penatalaksanaan.
  8. Ibid
  9. Ibid
  10. Ibid
  11. Ibid
  12. Klikdokter, “Gangguan Bipolar.”
  13. Willy, “Gangguan Bipolar.”

Get in Touch

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Related Articles

Pengobatan Bipolar Disorder: Obat, Terapi, & Keluarga

Pengobatan bipolar disorder bertujuan untuk menekan frekuensi episode manik dan depresi agar penderita bisa menjalani hidup layaknya orang normal. Peranan obat-obatan, terapi oleh psikiater...

Ciri-ciri Gangguan Mental: 6 Tanda yang Sering Terabaikan

Ciri-ciri gangguan mental bervariasi sesuai dengan indikasi penyakit mental yang mungkin dialami. Namun, ada tanda-tanda umum gangguan mental yang sering diabaikan oleh kebanyakan orang....

Penyebab Gangguan Mental: 7 Kebiasaan Pemicunya

Penyebab gangguan mental bisa beragam. Namun, ada 7 kebiasaan yang jika dibiarkan bisa menjadi pemicu munculnya gangguan mental. Kenali kebiasan buruk tersebut agar resiko...

Get in Touch

0FansLike
2,507FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Posts

Pengobatan Bipolar Disorder: Obat, Terapi, & Keluarga

Pengobatan bipolar disorder bertujuan untuk menekan frekuensi episode manik dan depresi agar penderita bisa menjalani hidup layaknya orang normal. Peranan obat-obatan, terapi oleh psikiater...

Ciri-ciri Gangguan Mental: 6 Tanda yang Sering Terabaikan

Ciri-ciri gangguan mental bervariasi sesuai dengan indikasi penyakit mental yang mungkin dialami. Namun, ada tanda-tanda umum gangguan mental yang sering diabaikan oleh kebanyakan orang....

Penyebab Gangguan Mental: 7 Kebiasaan Pemicunya

Penyebab gangguan mental bisa beragam. Namun, ada 7 kebiasaan yang jika dibiarkan bisa menjadi pemicu munculnya gangguan mental. Kenali kebiasan buruk tersebut agar resiko...

8 Gangguan Mental Paling Umum

Gangguan mental dapat dialami oleh siapa saja dengan berbagai alasan. Penyuluhan dan edukasi tentang gangguan mental di Indonesia sudah mulai membaik dalam 10 tahun...

Gangguan Bipolar: Kenali Penyebab, Gejala, & Perawatan

Gangguan bipolar bisa dialami oleh siapa saja dengan berbagai sebab. Kenali penyebab bipolar, gejala, dan apa yang harus kamu lakukan ketika dokter mendiagnosa kamu...